Kita pernah berdebat “cukup hebat” untuk pertama kalinya setelah hampir setahun berhubungan. Berkurangnya rasa percaya dan memutuskan untuk tidak bertemu dan berkomunikasi dulu untuk menenangkan hati dan pikiran selama beberapa waktu. Sampai akhirnya kurang dari 5 jam setelah perdebatan itu kau menghubungiku dan bertingkah seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Hahaa..
Kau menyesal untuk semua
perkataan yang telah kau ucapkan, untuk semua ungkapan yang keluar, dan untuk
semua sikap yang kau lakukan. Kau meminta maaf atas semuanya dan aku tidak
menyangka kau akan secepat itu datang meminta maafku.
Kau tau apa yang kupikirkan
sepanjang waktu setelah kau menutup telponmu waktu itu? Aku berpikir tentang
keadaan kita yang mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu. Bagaimana
akhirnya kisah yang selama ini kita bangun dengan ketulusan dan segala kebaikan
dari diri kita masing-masing akan berakhir.
Lalu aku memutuskan untuk
mendatangi tempatmu untuk menyelesaikan semuanya secara langsung, karena aku tidak
menyukai perantara. Aku akan berusaha memperbaiki hubungan ini sebisaku walau
aku tau kalaupun kita kembali maka keadaannya tidak akan sama seperti dulu. Aku
tidak perduli sekalipun kau telah mengatakan akan sangat kecewa padaku jika aku
datang ke tempatmu. Aku tidak akan perduli untuk rasa gengsi dan egoku yang
semakin tinggi.
Namun apa? Sebelum aku
melakukannya, kau sudah terlebih dulu datang menghubungiku dan berbicara
seakan-akan kita baik-baik aja. Seolah-olah perdebatan itu tidak pernah ada.
Ketika aku melihat id caller di ponselku dan melihat namamu, jantungku memacu
cepat. Aku takut mengangkatnya karena aku tidak ingin mendengar sesuatu yang
akan kau katakan untuk mengakhiri hubungan ini. Kemudian aku memberanikan diri
mengangkatnya dan merasa aneh saat kau bertanya aku sedang apa dan bertanya
kenapa ponselku tidak aktif dari pagi. Ya, aku memang segaja tidak
mengaktifkannya.
Kau bertanya apakah aku sudah
makan, bagaimana keadaanku, apa aku baik-baik saja. Jujur, aku merasa aneh! Dan
aku berusaha bersikap sama sepertimu walaupun aku canggung. Hingga kau meminta
maaf untuk semuanya, kau menyesal untuk perdebatan itu. Kau mengatakan “tidak
seharusnya aku berkata seperti itu kepada kekasihku, tidak sepantasnya aku
mengatakan hal-hal seperti itu kepada orang yang aku sayangi”.
Kau tau apa yang
kupikirkan? Aku tidak akan pernah melepaskanmu!!
Kau menjemputku dan dengan senyum
lembutmu kau berkata “Are you oke?”. Absolutely I’m okey, honey. You’re the
reason my happiness right now!
Aku merasakan kecocokan yang
sangat banyak terhadapmu sedari dulu. Kita memiliki pemikiran yang sama.
Aku
bahagia! Dan itu dibuktikan lagi sekarang. Kau dan aku sama-sama menunjukkan
sikap untuk memperbaiki keadaan. Tidak ingin berlama-lama dengan situasi yang
saling menyakiti.
Ketika kau berkata “aku tidak bisa seperti ini, jika aku menyakitimu maka aku juga menyakiti diriku
sendiri, aku tidak bisa” sambil menggenggam tanganku, rasanya aku ingin meleleh
detik itu juga.
Kau terus mengatakan agar aku tidak akan meninggalkanmu. Why do I want to leave someone who loves me so deeply like you? It's impossible not to fall in love with someone as kind as you? I love you, babe. I love you!
Tetaplah seperti ini hingga nanti
cincin itu melingkar di jari manisku sesuai dengan janjimu .
