Sabtu, 29 April 2017

Pernah

Edit Posted by with No comments


Kita pernah berdebat “cukup hebat” untuk pertama kalinya setelah hampir setahun berhubungan. Berkurangnya rasa percaya dan memutuskan untuk tidak bertemu dan berkomunikasi dulu  untuk menenangkan hati dan pikiran selama beberapa waktu. Sampai akhirnya kurang dari 5 jam setelah perdebatan itu kau menghubungiku dan bertingkah seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Hahaa..

Kau menyesal untuk semua perkataan yang telah kau ucapkan, untuk semua ungkapan yang keluar, dan untuk semua sikap yang kau lakukan. Kau meminta maaf atas semuanya dan aku tidak menyangka kau akan secepat itu datang meminta maafku.

Kau tau apa yang kupikirkan sepanjang waktu setelah kau menutup telponmu waktu itu? Aku berpikir tentang keadaan kita yang mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu. Bagaimana akhirnya kisah yang selama ini kita bangun dengan ketulusan dan segala kebaikan dari diri kita masing-masing akan berakhir.

Lalu aku memutuskan untuk mendatangi tempatmu untuk menyelesaikan semuanya secara langsung, karena aku tidak menyukai perantara. Aku akan berusaha memperbaiki hubungan ini sebisaku walau aku tau kalaupun kita kembali maka keadaannya tidak akan sama seperti dulu. Aku tidak perduli sekalipun kau telah mengatakan akan sangat kecewa padaku jika aku datang ke tempatmu. Aku tidak akan perduli untuk rasa gengsi dan egoku yang semakin tinggi.

Namun apa? Sebelum aku melakukannya, kau sudah terlebih dulu datang menghubungiku dan berbicara seakan-akan kita baik-baik aja. Seolah-olah perdebatan itu tidak pernah ada. Ketika aku melihat id caller di ponselku dan melihat namamu, jantungku memacu cepat. Aku takut mengangkatnya karena aku tidak ingin mendengar sesuatu yang akan kau katakan untuk mengakhiri hubungan ini. Kemudian aku memberanikan diri mengangkatnya dan merasa aneh saat kau bertanya aku sedang apa dan bertanya kenapa ponselku tidak aktif dari pagi. Ya, aku memang segaja tidak mengaktifkannya.
Kau bertanya apakah aku sudah makan, bagaimana keadaanku, apa aku baik-baik saja. Jujur, aku merasa aneh! Dan aku berusaha bersikap sama sepertimu walaupun aku canggung. Hingga kau meminta maaf untuk semuanya, kau menyesal untuk perdebatan itu. Kau mengatakan “tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepada kekasihku, tidak sepantasnya aku mengatakan hal-hal seperti itu kepada orang yang aku sayangi”. 

Kau tau apa yang kupikirkan? Aku tidak akan pernah melepaskanmu!!

Kau menjemputku dan dengan senyum lembutmu kau berkata “Are you oke?”. Absolutely I’m okey, honey. You’re the reason my happiness right now!

Aku merasakan kecocokan yang sangat banyak terhadapmu sedari dulu. Kita memiliki pemikiran yang sama. 

Aku bahagia! Dan itu dibuktikan lagi sekarang. Kau dan aku sama-sama menunjukkan sikap untuk memperbaiki keadaan. Tidak ingin berlama-lama dengan situasi yang saling menyakiti.
Ketika kau berkata “aku tidak bisa seperti ini, jika aku menyakitimu maka aku juga menyakiti diriku sendiri, aku tidak bisa” sambil menggenggam tanganku, rasanya aku ingin meleleh detik itu juga.
Kau terus mengatakan agar aku tidak akan meninggalkanmu. Why do I want to leave someone who loves me so deeply like you? It's impossible not to fall in love with someone as kind as you? I love you, babe. I love you!

Tetaplah seperti ini hingga nanti cincin itu melingkar di jari manisku sesuai dengan janjimu .

Selasa, 04 April 2017

Noname 4

Edit Posted by with No comments


Terkadang semuanya berjalan dengan sangat sempurna. Berjalan tenang dan damai tanpa sesuatu hal yang membuat ia khawatir. Tapi dibalik semua keindahan itu ia tahu ada hal yang tidak terduga.