Manusia itu diminta
untuk membongkar dirinya. Mengusik susunan memori yang sudah Manusia simpan
dengan rapi.
Awalnya Manusia
ragu, bagaimana caranya memulai? Mengurai tumpukan cerita yang menggunung, yang
sudah ada sejak Manusia pertama kali membuka mata.
Setelah berulang
kali menimbang, akhirnya Manusia memutuskan untuk mencoba. Mungkin dimulai
dengan gerakan kecil.
Lalu..
Setelah dipikir
kembali, apa untungnya?
Manusia itu
diminta untuk membongkar dirinya. Diminta untuk mengacak-acak dirinya sendiri.
Diminta untuk menemukan hal-hal buruk yang bersemayam di dalam hatinya, tersembunyi
jauh di dalam sanubarinya. Memilah mana
yang harus Manusia tinggalkan, memilih mana yang harus Manusia pertahankan.
Dan kau tau apa
yang Manusia temukan?
Manusia menemukan
banyak rongsokan emosi.
Betapa isi
hatinya sangat kotor.
Manusia bahkan
tidak menyadari bahwa ternyata yang Manusia bawa di dalam dirinya adalah
tumpukan penyesalan dan pikiran-pikiran hina.
Manusia tidak menyangka
bahwa itu sudah memenuhi isi kepalanya, memenuhi ruang di setiap sudut hatinya.
Kenapa Manusia
sampai kecolongan?
Pantas saja
Manusia merasa sesak. Ternyata Manusia tersedak kotoran yang tersimpan dalam
dirinya.
Miris, bukan?
Manusia merasa benar dengan apa yang Manusia lakukan selama ini. Merasa paling suci dari antara jutaan manusia lainnya. Berpikir bahwa apa yang telah Manusia lakukan adalah tak tercela.
Betapa Manusia
sangat malu.
Malu terhadap
semesta yang selama ini Manusia agungkan, yang mulai tertawa menyaksikan semua
dari atas sana.
Bahkan Manusia
tidak sanggup untuk melihat sekali lagi ke dalam, Manusia sangat takut akan
kembali.
Apa yang harus
Manusia lakukan?
Manusia harus
masuk lagi untuk membuang timbunan itu.
Busuk..
Manusia tidak
tahan lagi dengan aromanya, itu sudah menguar menusuk hidungnya. Menguap dari
dalam hingga membuatnya mual.
Daripada itu,
Manusia kembali berkutat dengan pikirannya sendiri. Apa yang harus dibuang dan
apa yang harus dipertahankan?
Semuanya sudah
mencampur, menjadi satu bagian utuh dirinya.
Manusia putus
asa akan kenyataan yang ada di depannya.
Manusia tidak
terima dengan dirinya.
Manusia hilang
arah.
Tak terbayangkan
dengan apa yang disuguhkan.
Kemudian
akhirnya Manusia menyerah, memutuskan masuk kembali untuk memperbaiki semua.
Perlahan Manusia
mulai memisahkan apa yang harus dibuang dan apa yang harus disimpan.
Manusia dengan
sangat hati-hati mulai bekerja. Tidak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya.
Tak takut waktu
yang dibutuhkan untuk membereskan semua, karena Manusia dengan sadar mengetahui ini memang diperlukan.
Dengan bangga
Manusia menyingkirkan semua tumpukan sampah kotor di dalam dirinya. Menunjukkan
pada semesta bahwa Manusia baik-baik saja.
Manusia yakin
akan hari esok yang lebih baik. Percaya bahwa langkahnya akan lebih indah.
Ringan batinnya
mulai terasa, sejuk tubuhnya mulai dirasa.
Mempermudah
dirinya untuk kembali seperti keadaan semula, dengan hidup yang diyakini
menghadirkan banyak warna.
Manusia berjanji
akan lebih memperhatikan. Memperhatikan aliran perasaan yang keluar dari
tubuhnya dan masuk menuju jiwanya.
Menyayangkan apa
yang tidak disadari selama bertahun-tahun, pun tidak menyesal untuk setiap
kejadian yang dialami.
Berhenti
menyalahkan diri sendiri atas ketidaksempurnaan yang dimiliki, berhenti memacu
diri untuk tidak pernah salah.
Manusia hanyalah
manusia.
Yang
membedakannya adalah keinginan untuk berubah.
Tergantung arah
tujuannya, tergantung sebesar apa niatnya.
