Senin, 23 Mei 2022

Bongkar Diri

Edit Posted by with No comments
Manusia itu diminta untuk membongkar dirinya. Mengusik susunan memori yang sudah Manusia simpan dengan rapi.
Awalnya Manusia ragu, bagaimana caranya memulai? Mengurai tumpukan cerita yang menggunung, yang sudah ada sejak Manusia pertama kali membuka mata.

Setelah berulang kali menimbang, akhirnya Manusia memutuskan untuk mencoba. Mungkin dimulai dengan gerakan kecil.
 
Lalu..

Setelah dipikir kembali, apa untungnya?
Manusia itu diminta untuk membongkar dirinya. Diminta untuk mengacak-acak dirinya sendiri. Diminta untuk menemukan hal-hal buruk yang bersemayam di dalam hatinya, tersembunyi jauh di dalam sanubarinya. Memilah mana yang harus Manusia tinggalkan, memilih mana yang harus Manusia pertahankan.
 
Dan kau tau apa yang Manusia temukan?
Manusia menemukan banyak rongsokan emosi.
Betapa isi hatinya sangat kotor.
Manusia bahkan tidak menyadari bahwa ternyata yang Manusia bawa di dalam dirinya adalah tumpukan penyesalan dan pikiran-pikiran hina.

Manusia tidak menyangka bahwa itu sudah memenuhi isi kepalanya, memenuhi ruang di setiap sudut hatinya.
Kenapa Manusia sampai kecolongan?
Pantas saja Manusia merasa sesak. Ternyata Manusia tersedak kotoran yang tersimpan dalam dirinya.

Miris, bukan?

Manusia merasa benar dengan apa yang Manusia lakukan selama ini. Merasa paling suci dari antara jutaan manusia lainnya. Berpikir bahwa apa yang telah Manusia lakukan adalah tak tercela.


Betapa Manusia sangat malu.
Malu terhadap semesta yang selama ini Manusia agungkan, yang mulai tertawa menyaksikan semua dari atas sana.
Bahkan Manusia tidak sanggup untuk melihat sekali lagi ke dalam, Manusia sangat takut akan kembali.

Apa yang harus Manusia lakukan?
Manusia harus masuk lagi untuk membuang timbunan  itu.

Busuk..

Manusia tidak tahan lagi dengan aromanya, itu sudah menguar menusuk hidungnya. Menguap dari dalam hingga membuatnya mual.
 
Daripada itu, Manusia kembali berkutat dengan pikirannya sendiri. Apa yang harus dibuang dan apa yang harus dipertahankan?

Semuanya sudah mencampur, menjadi satu bagian utuh dirinya.
Manusia putus asa akan kenyataan yang ada di depannya.
Manusia tidak terima dengan dirinya.
Manusia hilang arah.
Tak terbayangkan dengan apa yang disuguhkan.
 

Kemudian akhirnya Manusia menyerah, memutuskan masuk kembali untuk memperbaiki semua.

Perlahan Manusia mulai memisahkan apa yang harus dibuang dan apa yang harus disimpan.
Manusia dengan sangat hati-hati mulai bekerja. Tidak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya.
Tak takut waktu yang dibutuhkan untuk membereskan semua, karena Manusia dengan sadar mengetahui ini memang diperlukan.
 
Dengan bangga Manusia menyingkirkan semua tumpukan sampah kotor di dalam dirinya. Menunjukkan pada semesta bahwa Manusia baik-baik saja.
Manusia yakin akan hari esok yang lebih baik. Percaya bahwa langkahnya akan lebih indah.
Ringan batinnya mulai terasa, sejuk tubuhnya mulai dirasa.
Mempermudah dirinya untuk kembali seperti keadaan semula, dengan hidup yang diyakini menghadirkan banyak warna.
 
Manusia berjanji akan lebih memperhatikan. Memperhatikan aliran perasaan yang keluar dari tubuhnya dan masuk menuju jiwanya.
Menyayangkan apa yang tidak disadari selama bertahun-tahun, pun tidak menyesal untuk setiap kejadian yang dialami.
Berhenti menyalahkan diri sendiri atas ketidaksempurnaan yang dimiliki, berhenti memacu diri untuk tidak pernah salah.

Manusia hanyalah manusia.
Yang membedakannya adalah keinginan untuk berubah.
Tergantung arah tujuannya, tergantung sebesar apa niatnya.