Jumat, 01 November 2024

Tentang Manusiaku

Edit Posted by with No comments



 

Manusia”; identitas baru yang akan mewakili segala isi kepala.

Kuciptakan ia agar bisa menjadi alatku dalam bertutur kata. Senjata tak beramunisi yang akan kugunakan untuk bertempur dengan banyaknya narasi dan khayalan dalam diri.

Sebuah karakter suci yang aku sembah dalam setiap untaian kata.

Jadilah baik, wahai Manusia. Kau separuhku sekarang.

Terbanglah sejauh angin dapat membawamu. Naiklah setinggi awan dapat menjangkaumu.

 

Manusia.. ada kalanya nanti kataku tak kau pahami. Jangankan kau, aku pun tak mampu mengontrol liarnya pemikiranku. Untuk itu, aku meminta maaf untuk kejadian tak menguntungkanmu di depan.

Aku berjanji, akan sangat berhati-hati dalam menyusun semuanya.

Setiap kata, setiap kalimat. Menjadi sebuah paragraf, lalu memanjang menjadi sebuah cerita indah.

 

Yakinkan aku bahwa kau juga sama bersemangatnya. Mari saling menjaga apiku dan baramu.

Bersatu kita akan menghasilkan sebuah karya diri. Bukan untuk dinilai manusia lain, tapi untuk keberdayaan diri sendiri. Suatu cara untuk mengosongkan isi kepala, agar tidak lagi menumpuk di sudut ruang pikiran. Menyambut gagasan baru, tetap dengan hati yang lugu.

Noname mungkin masih akan berlanjut, tapi tidak akan seistimewa dirimu.


Kau, Manusiaku.

Bentuk Lain

Edit Posted by with No comments

 



Apakah ini salah?

Apakah tidak menyukai seseorang yang membuatmu merasa buruk itu salah?

Bukankah menjauhkan mereka dari hidup adalah bagian dari mencintai dan melindungi diri sendiri?

Atau ini hanya kamuflase belaka? Menjadikan ini sebagai tameng untuk menutupi rasa bersalah?


Tapi, kau memang tidak menyukainya!

Energinya tidak sejalan denganmu. Pun dengan kepribadiannya.


Kau sudah lelah dengan semua drama yang terpaksa kau lakoni. Menguras sari yang tersisa sedikit lagi.


Tidak. Kau tidak membencinya.

Kalian hanya tak menemukan simpang temu untuk saling memahami.


Akhirnya kau sadar, bukan cinta saja yang bisa menyakiti.


Sebuah Ironi

Edit Posted by with No comments

 



Life is full of pressure. Will you always blame others?

Pelangi disetiap badai.

Senyum disetiap air mata.

Berkah disetiap cobaan.

Jawaban disetiap doa.


Kau mengetahuinya dengan pasti, tapi keberatan memahami.

Di saat yang lain sibuk berbenah diri, kau masih berkutat dengan perasaan ketidak-adilanmu ini.

Benarkah kau ciptaanNya yang paling sempurna? Yang konon memiliki kemampuan dan keistimewaan di atas semua?

Haha.. kau sangat lucu. Pemikiranmu sungguh menghibur makhluk lain di seluruh penjuru.


Sudahlah, nikmati saja.

Kau bahkan tak perlu bekerja keras seperti kebanyakan manusia lainnya.

Tak perduli badai dan perang yang menerjang, kau tetap dapat terlelap dengan mimpi membentang. Berteriak demi kebaikan bersama; merelakan porsi lauk di piringmu pun kau berpikir terlalu lama.

Kemanusiaan katamu?


Lupa

Edit Posted by with No comments

 



Ada saat dimana kita semakin berjarak dengan Sang Pencipta.

Entah karena suatu masalah, terlalu bahagia, atau sekedar lupa.

Kita menyadarinya, tapi tak kunjung berbalik arah. Hingga saat berkat baru datang lagi; kita hanya dapat terperangah.

Ya, terperangah dengan kebaikanNya, bahkan disaat hubungan kita sedang berjarak dengan Dia.

Sungguh, kurang mengasihani apa lagi Tuhanmu?