Jumat, 17 Juni 2016

Impian Sederhana

Edit Posted by with No comments


Punya rumah yang ada dipinggiran kota dengan usaha ternak dan kebun kecil-kecilan, ya, itu impianku.



Aku sangat tahu bahwa ayahku sangat menyukai beternak dan berkebun. Dimanapun kami tinggal kami selalu memiliki “hewan peliharaan”, walaupun sebenarnya bukan dalam artian “hewan peliharaan” yang sesungguhnya.



Dari aku kecil kami selalu memiliki ayam, ayam kampung maupun ayam biasa. Kami terbiasa untuk memberi makan dan memasukkan ayam ke kandang jika hari sudah mulai sore. Ya walaupun sebenarnya aku sangat jarang melakukannya hehee. Biasanya ayahku membeli anak ayam, beliau tidak pernah membeli ayam yang sudah besar. Beliau lebih suka memeliharanya dari kecil. Jika sudah besar ayam-ayam itu kami konsumsi sendiri. Dan biasanya itu kami lakukan untuk hari-hari tertentu saja, misalnya hari ulang tahun anggota keluarga, hari libur tertentu, dan acara keluarga yang diadakan dirumah kami. Para tetangga dan kerabat juga banyak yang membeli ayamnya kepada kami dihari-hari tertentu.

Aku ingat ayahku sangat menyukai ikan hias, terutama ikan laga. Lemari didapurku dipenuhi dengan wadah-wadah kaca tempat ikan laga. 2 hari sekali ayah dan adikku akan pergi ke sawah dekat rumah untuk mencari jentik-jentik makanan ikan. Banyak sekali tetangga-tetangga yang datang kerumahku hanya untuk melihat koleksi ikan laga ayahku. Tak jarang dari mereka yang ingin melaga ikannya dengan ikan milik ayahku. Tentu saja ayahku pilah-pilih dalam melaga ikannya dengan ikan milik orang lain, beliau tidak terlalu suka melaga ikan, beliau hanya suka mengoleksinya. Tak sedikit juga dari mereka yang ingin membeli.


Aku juga tahu kalau ayahku sangat suka berkebun. Kami dulu memiliki sepetak tanah yang berukuran 3 rantai dipinggiran kota. Tanah itu dibeli ayahku untuk menyalurkan hobinya berkebun. Kami juga mendapat tambahan penghasilan dari hasil kebun tersebut. Ayahku menanam jagung, cabai, ubi kayu, ubi rambat, pohon pisang dan lain-lain. Ya walaupun tidak dalam jumlah yang banyak tapi setidaknya kebun itu penuh dengan hasil tanaman ayahku. Beliau sangat telaten dalam menjaga, merawat, dan memelihara tanamannya. Aku dan adik-adikku selalu bergantian pergi kekebun setiap hari minggu untuk membantu ayahku merawat kebunnya. Aku belajar menanam ubi kayu, mencangkul, dan lainnya. Aku paling suka jika sudah panen, aku sangat senang memanen cabai dan jagung. Ayahku juga membuat gubuk kecil untuk kami berteduh, tak lupa juga membuat sumur untuk menyiram tanaman dan kegunaan lainnya. Kebetulan kebun kami tersebut bersebelahan dengan kebun milik pamannya ayahku. Mereka memilliki tanah yang luas, profesi mereka memang sebagai petani. Sawahnya sangat luas, ditambah juga dengan berbagai macam sayur, tanaman, tumbuhan dan lainnya. Ayahku menitipkan kebun kami kepada mereka, mereka juga bebas mengambil hasil kebun dari kebun kami, kami tidak pernah mempermasalahkan soal itu. “Daripada orang lain yang mengambil lebih baik mereka yang mengambilnya”. Begitu kata ayahku. Ayahku memang tidak setiap hari pergi ke kebun dikarenakan pekerjaannya yang kadang pulang terlalu sore. Tergantung beliau mau kapan datang dan lamanya pulang bekerja.

Dari situlah aku bercita-cita untuk membahagiakan orangtuaku. Dengan membeli rumah yang memiliki halaman luas dipinggiran kota dan membuat peternakan serta kebun sendiri. Ayahku pernah mengatakan jika kami semua sudah besar mereka akan pindah ke kampung halaman kami di Kisaran, mereka akan beternak dan berkebun. Ya, kami memang memiliki rumah dan tanah yang cukup luas disana, dan itulah alasan ayahku ingin tinggal disana. Keluarga ayahku memang tinggal disana. Aku tidak ingin mereka tinggal di kampung halaman, aku ingin mereka tetap tinggal disini bersama kami. Dan dengan cara ini aku yakin mereka akan sangat bahagia.

Ayahku akan mengurusi ternak dan kebun, ibuku akan menjadi menteri keuangannya, tentu saja. Dimanapun ibuku ditempatkan dia akan selalu menjadi menteri keuangan. Aku ingin mereka bahagia! Aku ingin mereka merasakan hasil dari kerja kerasnya merawat kami. Dan dengan usaha yang sangat dimintai ayahku ini dia pasti akan dengan senang hati mengurusinya. Inilah yang aku inginkan, membuat ayah dan ibuku melakukan sesuatu yang sangat mereka senangi dan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk kebutuhan mereka sendiri. Mereka tidak perlu lagi membiayai kami, kamilah yang akan membiayai mereka, dan mereka hanya perlu menikmati hasilnya.

Sangat sederhana memang, tapi inilah yang aku cita-citakan.

0 Yang Komen Nih:

Posting Komentar